Saya teringat kenangan 4 tahun lalu, Agustus 2020, datang bersama teman-teman seperjuangan yang saya sayangi. Saat itu, kali pertama lepas landas di daerah istimewa Yogyakarta saya melihat kota ini sekilas seperti kota Mataram, kota kelahiran saya dengan rasa yang masih asing alias Yogyakarta (Mataram rasa asing).
Sepanjang jalan yang saya lalui, banyak hal-hal indah di kiri dan kanannya. Entah itu warna-warni kuncup bunga yang akan mekar atau sepasang manusia yang saling bergandengan tangan hendak menyebrang. Hal sederhana itu tanpa sengaja menjadi senyum yang menghiasi wajah saya, tanpa sadari jatuh hati dengan ketenangan Yogyakarta.
4 tahun berlalu dengan banyak lika dan liku, banyak rasa yang sudah menemani hingga meraih gelar sarjana. Bukan hal yang mudah untuk mendapatkannya, bila tidak terlalu berlebihan bisa dibilang butuh perjuangan sampai berdarah-darah dan mendakinya hingga patah kaki.
Dan pagi 29 Juni 2024, gedung itu menghangat. Orang-orang muda dan tua memakai toga mengantar orang tua menuju kursi untuk sebuah upacara; wisuda. Yogyakarta dingin di pagi hari, Saya menyambut mamak dengan hangat sambil sesekali mengecek toga saya masih di atas sana. Matahari kemudian menghangatkan, dengan lembut mulai keluar dari balik gedung. Buket bunga pertama tentu dari mereka: mamak dan bapak.
Meski tidak mengetahui detail perjuangan dan jerih payah saya bisa sampai di hari itu. Namun, terimakasih atas doa dan harapan baik yang selalu dilangitkan untuk saya. Semoga Allah memberikan kemudahan dan segala yang terbaik untuk kehidupan.