Biasanya aku diberi ide menulis saat rasakan sedih. Entah mengapa jariku menjadi lambat baitkan sedih yang meramuku. Seperti mengais kembali kemampuan dan pengetahuan abal-abal dengan bahasa, bertanya padamu dan mengamati seluruh kesalahan yang merangkai pedih. Fokus utama adalah kamu yang hingga saat ini masih menjadi ejaan yang pelan-pelan melatih lisan dan tanganku untuk membentuk sistem dari rindu, bacaan, obrolan, terangkai menjadi pemahaman.
Pertanyaan yang sering melintas di kepala pun berkutat untuk menyampaikan maksud, aku cukup khawatir saat maksud yang salah mereka mengerti, bukankah itu menjadi konsekuensi utama bagi penulis amatir sepertiku? Banyak ketakutan yang terlalu aku sisakan dalam bayangan.
Aku lebih takut jika dari banyaknya susunan baris kata ini tak ada satupun yang tersampai, tak ada satu ejaan pun yang kamu tangkap dengan baik di kepala. Aku takut jika amin paling serius yang pernah aku rapalkan tak ada satupun yang merayakan jawaban. Aku takut kamu yang dulu hingga sekarang kudekap begitu dekatnya dengan kulitku ini akan menjauh dan berjarak seperti realita. Aku paham betul kamu akan pergi, begitupun aku yang tak akan mampu mendekapmu lagi.
Bahkan hingga kulitku layu menjadi musim salju yang berkepanjangan, dunia berubah, kamu akan terus hidup dalam bayangan itu, kenangan itu terus hidup di kepala, kalimat itu terus terdengar di telinga. Mereka masuk memori jangka panjang — amat sangat penting bagiku sampai aku sulit melupakannya.
Sulit pura-pura pikun; dalam kurung, aku tidak mampu.
Jika memang menyiksa mengapa tidak aku hilangkan saja, meski menyiksa aku tak akan menyesalinya. Aku banyak bermimpi setiap harinya, setiap jam, setiap bertambahnya waktu yang aku habiskan mebayangkan mimpi. Aku gak menyesal, aku justru menyesal jika tidak sempat diusahakan; hanyalah sebuah mimpi kosong. Semuanya hanya dongeng di kepalaku, dan terasa abu-abu saat kucoba meraba.
Kamu sebuah mahakarya indah di kepala, mungkin lain kali aku akan dipertemukan dengan kamu (yang terasa seperti mahakarya nyata).