Apakah memang pantas untuk tetap keras kepala pada hal yang mungkin memang tak seharusnya dia genggam sebegini percaya dirinya. Bagaimana jika dia ditinggalkan lalu menyerah begitu saja? lalu, dia harus berjuang yang seperti apa?
Sekarang dia masih berada dalam kubangan kebingungan, langkah mana yang akan dia pijak. Jalan seperti apa yang akan dia temui, arah mana yang akan menuntunnya pergi. Masih sangat membingungkan dan menakutkan. Dia butuh seorang teman tiap kaki melangkah, dia ingin melangkah bersama. dia ingin digenggam saat pegangannya mulai rapuh. Dimana dia dapatkan sosok itu? dia butuh didengar kala biru melanda hatinya.
Akankah seseorang itu datang padanya? akankah dia bertemu dengan temannya?
Dia sungguh paham besok itu akan datang, tapi apakah besok masih ada dia di dalamnya? dia ketakutan, wajah nan cantik itu tak dapat sembunyikan kepala ributnya yang licik.
Apakah besok masih ada teman itu di dalamnya? menimbang-nimbang hal kelabu takkan ada ujungnya.
Besok tidak akan datang sekali. Kalau besok belum bisa, besoknya lagi masih ada. kalau masih juga bisa, then say it again — tomorrow will be okay. Karena tidak ada yang pernah tahu bahwa besok akan ada apa, termasuk kemungkinan kita bersama, berdua.