Aku membuka kembali percakapan lama kita, dimana semua kisah bermula.
Seketika aku tersenyum kala melihat pesan terakhir yang terkirim untukmu, waktu sepulang ngampus; tanpa sengaja seorang bapak tua menabrakku. Lucu, aku bercerita seperti mengadu pada orang tuaku.
Yang mirisnya pesan itu takkan pernah kutahu balasannya.
Tidak banyak yang kamu ubah, profile dan background masih seperti sediakala, waktu aku putuskan pergi. Nama yang kamu ganti membuatku geli sendiri, ternyata sampai kapanpun kamu masih menjadi mahluk yang sangat menggemaskan. Semua orang pasti setuju denganku, apa kamu telah menyadarinya?
Jariku setia menggulir tiap kata yang kamu kirim, tanpa sadar terjadi dialog dalam benak, “apakah kamu masih setia mengirim pesan di sepertiga malam? Apakah kamu sudah terbiasa tidur lebih awal? Apa yang kamu masak hari ini? Apa kamu masih ingin menangis?” Ribut hatiku dipenuhi pertanyaan semu tentang hari-harimu.
Sepertinya itu tak mengkhawatirkan lagi, aku menerima kabar baikmu dari orang baik yang kusebut para pengganggu, senyummu masih semanis dahulu, tawamu masih ribut, dan si cantik masih hidup sehat sebab kau rawat seperti putrimu sendiri.
Terkadang para pengganggu membantu mengobati rindu, ingin kusampaikan beribu ucapan terima kasih, jika saja tidak terhalang oleh hati dan jari yang terus berperang.
Apa aku termasuk manusia jahat? Meragukan diri sendiri, tujuanku hanya ingin membentengi diri.
Aku selalu menyangka suatu hari…
Kita akan bertemu di waktu lain,
Bumi lain…
Biarkan saja sangkaan ini cuma angan belaka. Jika takdir, aku takkan menolaknya.
Aku tersadar ini hanya kenangan di gelapnya malam.
To My Last ZCL