Airmata itu terlihat biasa, mungkin juga sia-sia. Dan tersenyum adalah cara yang tepat untuk menutup luka.
Aku sudah terbiasa…
perpisahan…
bukan hal yang mengejutkan
kisah ini bukan tentang kehilangan ataupun melupakan
ini sebuah janji yang kita jadikan sebuah ikatan
kesetiaanku menunggu pada depan pintu terbuka akan terbentang dengan senyum hangat yang kuberikan.
aku hanya perlu berlari dari masa lalu
bukan karena apa-apa, aku takut takkan bisa menahan diri jika rindu ikut berperan. yang kutebak akan menambah kekacauan, luka, dan tangisan.
luka manis yang tidak sengaja aku ciptakan dan enggan aku sembuhkan
meski bukan kemarin atau hari ini
kamu akan kembali
menyapa dalam mimpi-mimpi
selalu kunanti
namun, malam-malam syahdu
aku mendapati huruf-huruf penyusun namamu
menggelayuti denyut dan degup jantungku
ini adalah dan hanyalah aku-rindu-kamu
jika saatnya nanti kita ditakdirkan untuk tidak bertemu
kau tahu?
biarkan saja aku menjadi pemuja atas semua puisi tentangmu
dan menganggap semua ini akan menuntun pada kesungguhan rasaku
ketika tuhan benar-benar tak mengizinkannya,
maka aku tak miliki kuasa
tapi rindu itu tetap deras saja.