Sebelumnya saya pernah memiliki sirkel pertemanan, yang menurut saya cukup solid. Dan saya yang tidak mudah akrab dengan orang baru, apalagi teman yang saya temui di dunia Maya. Kami berlaku baik dengan sesama, mencurahkan perhatian, mendengar berbagai keluhan serta curhatan. Entah angin mana yang membuat hubungan kami renggang bahkan tak temukan lagi sapaan walau hanya mengingatkan untuk makan.
Berbulan-bulan lalu sebelum tahun berganti saya memikul rasa bersalah. Menanyakan hal kelabu apakah saat itu saya melakukan kesalahan kemudian salah ambil langkah? Ini mungkin hanya terjadi di kepala ribut saya, mereka tidak terganggu akan hal yang saya rasakan ramainya dengan kebingungan. Hanya satu keputusan, bahwa semuanya memang salah saya. Mereka berkata buruk kepada sosok yang saya kagumi. Saya selalu membawa masa lalu dan membebankannya pada masa depan, menjadikannya luka yang makin menganga.
Mereka berkata buruk kepada saya, saya hanya diam tidak bereaksi. Saya mengingat dengan baik kata demi kata. Meski hari itu selesai, tapi tidak dengan hati dan perasaan saya. Suatu waktu di hari lain ada hal yang membuat saya mengingat kembali kata-kata buruk itu, saya merasakan sakit yang sama seperti saat mereka mengatakannya. Padahal mereka hanya mengatakannya sekali, tapi sakit yang saya rasakan berkali-kali.
Mereka bilang akan siap pasang telinga jika saya butuh pendengar, nyatanya perkataan itu sulit diwujudkan. Saya hanya butuh didengar, urusan jalan keluar bisa saya pikirkan belakangan. Saya tidak mampu untuk langsung siap diberi pandangan. Tidak bisakah saya didengar dahulu? Ini sebabnya saya lebih memendam dan diam. Tanpa saya sadari saya telah terluka, tapi saya tidak mengobati luka dengan benar, saya malah denial menyikapi luka, cuma ditutup asal-asalan yang penting tidak terlihat. Tapi yang ada malah menimbulkan infeksi.
Apa gejolak emosi saya bisa dianalogikan seperti luka? Saya kecewa dan merasa marah. Saya ingin kali ini keadaan mendukung rasa marah saya, sekali saja saya ingin bersikap egois.
Membagi masalah justru membuat saya tidak nyaman dan merasa terbebani, entah kapan saya tanamkan dalam hati. Saya akan berusaha menghindari mereka jika kepala saya kembali ramai. Tenang saja, saya pastikan radar saya sulit ditemukan. Saya ingin menangis, namun mata terasa beku. Bagaimana lagi saya tumpahkan emosi saya, saya benci kebingungan ini. ini bukan saya akhir-akhir ini, saya tak mengenal.
Dan dia, sosok yang saya kagumi… seharusnya tidak akan membuat saya heran lagi. Dia mendatangi saya dalam mimpi, mengingatkan saya lagi.
“menjadi orang baik itu tidak akan pernah salah”,
kalimat-kalimat positifnya mampu membuat saya merasa lebih baik. Saya tidak berlebihan menyebutnya sebagai seorang support system, itu memang layak untuknya. Di saat-saat seperti ini dia bak dikirim untuk membuat saya merasa baik kembali, yang konon waktunya bertepatan dengan kondisi saya. Wajar saja saya menaruh hati hingga ciptakan rasa sayang yang mendalam.
Dia bilang dunia ini indah jika memaknainya, dia benar. Barang kali kita melihat dunia dengan kacamata berbeda. Dia melepas kacamata hitamnya agar lebih jelas melihat dunia. Saya selalu mengagumi bagaimana cara dia melihat dunia, kemudian dia melepas perlahan kacamata hitam saya agar bisa melihat indah dunia yang dia lihat.
Dia dengan caranya sendiri menarik saya dengan seluruh pesonanya, baru pertama kali saya rasakan ini di dunia. Tapi saya tidak bisa terus-menerus menjadi bayangnya, mengikutinya sampai kemanapun. Bersamanya saya menjalani indah dunia, bahkan lebih indah dari kemarin, sampai merasakan berdiri di tengah hujan lebat menjadi sangat indah jika sambil membayangkan sederhana senyumnya. Dia terlalu indah, kata-kata saya tidak cukup membayangkan indahnya.
Selamat malam, kasih. Cukup sampai disini saja tulisan kali ini.
Yogyakarta, 20 Februari 2023